Artikel

Rejab

    doa rejab copy

بسم الله الرحمن الرحيم

Salah satu bentukan kata rajab adalah kata tarjib yang berarti “pengagungan”. Rejab disebut pula sebagai “pencurahan”, karena Allah mencurahkan rahmatNya kepada orang-orang yang bertaubat pada bulan Rejab dan mengalir cahaya-cahaya penerimaan atas amal seseorang. Rejab diertikan pula dengan “tuli”, karena tidak pernah didengar pada bulan itu nuansa pembunuhan dan peperangan. Kononnya Rejab merupakan nama sungai di syurga, airnya lebih putih dibanding susu, manisnya melebihi manis madu, dinginnya lebih dingin dibanding ais. Tidak akan ada yang meminumnya, kecuali orang yang berpuasa pada bulan Rejab.
Rasulullah SAW bersabda, “Rejab adalah bulan Allah, Sya’ban bulanku, dan Ramadhan bulan umatku.”

Rejab terdiri dari tiga huruf akronim yaitu : Ra’  dari kalimah  rahmatullah (rahmat Allah),  Jim  dari kalimah   jinayatul-‘abd  (kesalahan hamba Allah), dan Ba’ dari kalimah  birrullah  (kebajikan Allah). Bulan Rejab disebut juga  dengan  nama Al-Summun artinya tuli. Tuli disini bermakna tidak dapat mendengar bunyi senjata karena peperangan diharamkan sepanjang bulan Rejab.

Hal ini sejalan dengan firman Allah Swt dalam QS. At-Taubah (9): 36 :

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan; dalam ketetapan Allah, sejak hari Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan yang dihormati. Demikian itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu (dalam bulan yang empat itu)……”

Menurut Allamah Kamal Faqih Imani dalam Tafsir Nurul Quran disebutkan bahawa sejak hari dibentuknya sistem tata suria seperti bentuk yang kita lihat sekarang ini, terbentuk pula hitungan tahun dan bulan. Hitungan satu tahun adalah putaran lengkap dari rotasi bumi mengelilingi matahari; dan dalam hitungan satu bulan adalah pergerakan penuh dari rotasi bulan mengelilingi bumi, yang terjadi sebanyak dua belas kali dalam setahun.

Kemudian al-Quran menambahkan bahwa terdapat empat bulan di antara dua belas bulan itu yang haram (disucikan), di mana menurut hukum agama diharamkan, pada bulan-bulan yang empat itu, untuk bertempur dan berperang. Yang dapat dipahami dari beberapa literatur Islam bahwa larangan berperang selama empat bulan ini adalah merupakan perintah yang bukan hanya dalam agama (kepercayaan) Nabi Ibrahim as, tetapi juga dalam agama yang diturunkan Tuhan kepada kaum Yahudi dan Nasrani, sebagaimana juga diturunkan kepada agama-agama langit yang lain. Sehingga apabila ada serangan dari kaum kafir kepada kaum muslimin, maka sudah semestinya bagi muslimin yang monoteistik untuk bersatu dalam satu barisan yang kokoh melawan musuh Islam.

Bulan Haram pada ayat di atas ialah bulan yang dihormati dan dimuliakan oleh al-Quran, majoriti ahli tafsir mengemukakan bahwa ada empat bulan haram (mulia) yaitu Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab. Setiap bulan ataupun hari-hari tertentu yang dimuliakan pasti mempunyai makna sejarah dan nilai filosofis yang sangat berarti bagi kaum muslimin, demikian halnya dengan Rejab.

Antara peristiwa yang terjadi di bulan rejab :-

  1. Isra’ Mikraj (27 Rejab).

Pada malam 27 Rejab, Nabi Muhammad saw melakukan perjalanan yang dikenal dengan Isra’ Mikraj, di mana Nabi Muhammad diperjalankan berangkat dari Masjidil Haram menuju Masjid Al-Aqsa di Baitul Maqdis, Palestin. Isra’ Mikraj itu sendiri adalah hiburan yang diberikan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw, sebagai penguat diri baginda, dalam menjalani beratnya perjalanan dakwah yang baginda hadapi, lebih-lebih lagi setelah pemergian isteri yang begitu baginda cintai dan sayangi, Khadijah RA yang selalu setia berada di sisi baginda, memberikan segenap sokongan moral dan spiritual juga tulang belakang dakwah nabi,ditambah dengan kematian bapa saudara baginda pada tahun yang sama, Abu Thalib, orang yang selama ini memberikan himayah(perlindungan) akan dakwah nabi Muhammad saw.

 

  1. Pembebasan Baitul Maqdis Palestin

27 Rejab 583 H, Shalahudin al Ayyubi bersama pasukan kaum muslimin bergerak mengepung dan membebaskan tanah Palestin yang setelah sekian abad lamanya dikuasai oleh pasukan tentera salib.

Umat Islam Palestin pun akhirnya kembali dapat hidup dengan melaksanakan syariah Islam di bawah sistem pemerintahan Khilafah Islam.

 

  1. Penghapusan Sistem Khilafah

28 Rejab 1342 H atau tepatnya pada 3 Mac 1924, seorang pengkhianat yang bernama Mustafa Kemal at-Tarturk, seorang yang berketurunan Yahudi dari suku Dunamah, seorang agen barat (Inggeris), telah menghapuskan sistem pemerintahan Islam yakni Sistem Khilafah, yang kemudian diganti dengan sistem pemerintahan Republik. Aturan syariah Islam diabaikan, dan diganti dengan aturan yang berpijak pada ideology Kapitalisme-Sekuleris.

Umat Islam yang dulunya berada pada satu wilayah kekuasaan pemerintahan, kini telah terpecah-pecah menjadi negeri-negeri kecil sekitar 57-an Negara, yang disekat dengan batas territorial wilayah atas nama Nasionalisme.

 

  1. Hijrah Pertama ke Negeri Habsyah (Ethiopia)

Ketika pihak musyrikin Mekkah meningkatkan tekanan dan ancaman kepada kaum muslim dan Rasulullah saw, maka baginda memerintahkan kepada para sahabat untuk melaksanakan hijrah ke negeri Habsyah (Ethiopia). Jumlah mereka adalah 14 orang termasuk 4 orang wanita. Habsyah dipilih oleh Rasulullah saw kerana rajanya dikenal dengan toleransi dan sikap terbukanya. Di antara mereka yang berhijrah ke Habsyah adalah Sayydina Uthman RA dan istrinya Ruqayyah puteri Rasulullah saw.

 

5. Kelahiran Ali bin Abi Thalib di dalam Ka’bah

Terjadi peristiwa ajaib yang menggemparkan sejarah umat manusia. Sebab peristiwa ini tidak pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan pernah terjadi sampai hari kiamat, demikian Nabi bersabda. Pada hari Jumat 13 Rejab, 23 tahun sebelum hijrah telah lahir seorang bayi suci di dalam Ka’bah.

Ringkasnya:

Fatimah binti Asad, ibunda Ali bin Abi Thalib, seorang wanita solehah, mukminah dan pengikut agama tauhid, pada suatu hari diilhamkan Allah SWT kepadanya supaya pergi ke Baitullah untuk bertawaf. Ketika sedang mengelilingi Ka’bah, tiba-tiba dia berasa sakit untuk melahirkan. Lalu Fatimah binti Asad memegang kain penutup Ka’bah sambil bersimpuh ke dindingnya, kemudian berdoa: “Ya Allah, wahai Tuhan Pemilik rumah suci ini, sesungguhnya aku ini seorang wanita yang beriman kepada-Mu. Aku juga beriman kepada agama yang dibawa datukku Ibrahim AS, kepada para nabi yang telah Engkau utus serta kitab-kitab suci yang telah Kau turunkan. Ya Allah, demi kemuliaan rumah ini dan demi kesucian bayi yang sedang aku kandung ini, maka permudahlah proses kelahiran ini”.

Tiba-tiba suatu keajaiban benar-benar terjadi, seketika terdengar suatu gemuruh karena dinding Ka’bah yang di hadapan Fatimah binti Asad terbelah. Fatimah masuk ke dalam Ka’bah, kemudian dinding Ka’bah yang retak itu tertutup kembali. Abbas bin Abdul Muthalib dan kawan-kawannya yang menyaksikan kejadian itu segera memberitahu suami Fatimah binti Asad, iaitu Abu Thalib. Mereka berusaha membuka pintu dan dinding Kabah, tetapi tidak berhasil. Akhirnya mereka hanya mampu menunggu, sambil berdoa. Tiga hari kemudian dinding Ka’bah terbelah lagi, Fatimah binti Asad keluar dengan memangku bayi yakni Ali bin Abi Thalib yang telah lahir di dalam Ka’bah.

Rasulullah Saww bersabda: “Ada yang aku miliki dan tidak dimiliki Ali, dan ada yang dimiliki Ali namun aku tidak memilikinya. Yang aku miliki dan tidak dimiliki Ali adalah bahwa aku seorang nabi dan rasul terakhir yang diutus oleh Allah SWT, sedangkan yang dimiliki Ali namun aku tidak memilikinya ialah bahwa ia satu-satunya manusia yang lahir di dalam Kabah”.

Ali bin Abi Thalib yang merupakan salah seorang Ahlul Bait Nabi yang telah disucikan oleh Allah Swt sesuci-sucinya (QS.33: 33), beliau lahir di dalam Ka’bah (Baitullah) yang suci, tumbuh besar dalam buaian dan pangkuan Nabi paling suci iaitu Muhammad Rasulullah saw, dan pada malam dalam bulan Ramadhan 40H ketika sedang melakukan sujud di Masjid Kufah dia dihentam oleh pedang si manusia paling terkutuk dan paling celaka yang bernama Ibnu Muljam, akhirnya pada malam berikutnya (21 Ramadan 40H) roh manusia suci ini telah kembali ke rahmatullah. Kalimah terakhir yang keluar dari lisannya yang suci ialah: “Fuzhu wa rabbil ka’bati.” Sungguh aku telah meraih kemenangan, demi Tuhan pemilik Kabah.

Demikianlah peristiwa besar yang terjadi di bulan Rejab dalam sejarah umat Islam. Umat Islam masih banyak yang tidak tahu terutama tentang tempat kelahiran Ali bin Abi Thalib. Manusia yang ditakdirkan oleh Allah SWT lahir di dalam Baitullah dari rahim Fatimah binti Asad isteri dari Abu Thalib.

 

  1. PERANG TABUK

Perang Tabuk terjadi pada bulan Rejab tahun ke-9 Hijrah. Ia terletak antara Hijaz dan Syam (Syiria). Dalam sejarah Islam, peperangan ini merupakan skop peperangan terakhir bagi Nabi Muhammad saw, juga dikenali dengan “Perang al-‘Usrah” kerana keadaan cuaca pada ketika itu panas terik bahkan Tabuk merupakan destinasi padang pasir yang terlalu jauh.

Kebiasaan dalam peperangan Nabi saw tidak memberitahu lokasi dan destinasi yang hendak dituju kerana untuk merahsiakannya daripada pengetahuan musuh, namun pada peperangan Tabuk berlaku sebaliknya. Ini kerana besarnya persiapan dan bekalan yang harus disiapkan kerana amat sukar perjalanannya agar semuanya dapat memperlengkapkan diri secukupnya bagi menghadapi angkatan musuh yang besar.

Namun dalam masa yang sama, ketika inlah Allah s.w.t. ingin memperlihatkan sikap sebenar golongan munafik yang mencari pelbagai alasan untuk menghindari diri mereka keluar berperang kerana kesukaran tersebut bahkan dalam masa yang sama mengajak pula sahabat-sahabat lain untuk bersama mereka.

Lalu Allah s.w.t. berfirman : “Orang yang ditinggalkan (tidak ikut ke medan perang) berasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah dan mereka tidak suka berjihad (menegakkan ajaran Allah) dengan harta dan jiwa mereka dalam jalan Allah, dan mereka berkata: Janganlah kamu berangkat(pergi berperang)dalam panas terik ini. Katakanlah(wahai Muhammad, api neraka lebih panas, jika mereka mengetahui.” (Surah At-Taubah,ayat:81)

Namun, Rasulullah saw hanya mempercayai tiga orang dalam kalangan mereka yang memberikan alasan tersebut kerana benar-benar jujur mengakui kesilapan mereka. Sebagai ‘iqab (denda) yang dikenakan kepada mereka sebagai peringatan, Rasulullah dan para sahabat memulaukan ketiga-tiganya selama hampir 50 hari sehinggalah datangnya Firman Allah SWT :

“Terhadap tiga orang yang tidak keluar perang, hingga bumi terasa sempit bagi mereka (kerana dipulau oleh Nabi dan Sahabat) padahal bumi itu luas, lalu jiwa mereka pula menjadi sempit, serta mereka telah mengetahui bahawa tiada tempat lari dari pengajaran Allah melainkan kepada-Nya jua, kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka thabat dengan taubat mereka, seungguhnya Allah Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang”. (Surah al-Taubah : 118).

Pulangnya angkatan tentera Islam dari Tabuk tanpa berperang kerana bantuan tentera Allah melalui pengutusan Malaikat. Dikatakan semasa angkatan Rom ingin memasuki wilayah Tabuk, mereka telah digentarkan 100,000 malaikat yang menyamar sebagai panglima-panglima tentera Islam yang berpakaian serba putih, berbadan besar, sasa dan tegap disamping mempunyai sut serta alatan tempur yang lengkap seperti angkatan berkuda dan memanah. Hal tersebut segera mematahkan perasan tentera Rom untuk memerangi Islam.

 

  1. KELAHIRAN IMAM SYAFIE RA

Nama sebenar Imam Syafie ialah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Uthman bin Syafie’. Beliau lahir di Ghazzah, Palestin pada bulan Rejab tahun 150H. Beliau adalah salah seorang dari empat imam mazhab yang besar dalam dunia Fiqh.

Antara jasa besar beliau adalah menggabungkan antara dua jenis institusi pengajian (madrasah Hadith di Hijjaz dan madrasah Ra’yu di ‘Iraq). Beliau juga ulama’ pertama yang menyusun dan menulis Kitab Usul Fiqh dan diberi nama al-Risalah.

Antara peninggalan imam Syafie yang tiada ternilai harganya dan menjadi rujukan sehingga sekarang ialah kitab al-Umm, al-Risalah, al-Hujjah, Ikhtilaful Hadith dan lain-lain.

 

KESIMPULAN

Alangkah manisnya apabila kita dapat menyatukan ibadat solat, puasa, zikir, tasbih, tahlil, tahmid, qiyam, sedekah dan kebaikan lain di bulan Rejab sebagai persediaan awal kepada pembukaan Bulan Ramadhan nanti. Semoga amalan Rejab ini menjadi pemangkin untuk mereka yang benar-benar dahagakan kejayaan dan anugerah Allah SWT.

Gelap malam pasti terang, sang mentari pasti datang. Pencarian hakikat Rejab sebenarnya datang menyuluh dan menerangi para mukmin. Sucikan kalam, amalan dan hati semata-mata kerana-Nya. InsyaAllah sinar keagungan Rejab mampu menjadi milik kita. Menjadi pemangkin keberjayaan kita dalam imtihan dunia dan akhirat.

Imam al-Thabrani meriwayatkan daripada Anas bin Malik, apabila tibanya bulan Rejab, Baginda mendoakan: “ Ya Allah, berkatilah hidup kami di bulan Rejab dan Syaaban dan sampaikan (hayat) kami kepada bulan Ramadan.”

Imam al-Baihaqi meriwayatkan daripada Imam Syafie berbunyi : “Telah sampai kepada kami Imam Syafie mengatakan : ‘Sesungguhnya doa itu mustajab pada lima malam : malam Jumaat, malam Aidiladha, malam Aidilfitri, malam pertama bulan Rejab dan malam nisfu Syaaban”.

|Artikel Sejarah Islam|

 

 

Sumber rujukan :-

http://nuansailmu.weebly.com/keutamaan-bulan-rajab.html

http://www.eramuslim.co/peradaban/sirah-tematik/tiga-peristiwa-penting-di-bulan-rajab.htm

http://wanfauzi.com/antara-peristiwa-di-bulan-rejab/

 

 

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
Loading...